ELECTRONIC WASTE: CANGGIH NAMUN MENCEMARI LINGKUNGAN
Setelah pandemi COVID-19, penggunaan elektronik mengalami peningkatan yang signifikan. Manusia mulai memahami pentingnya peran teknologi bagi kehidupan sehari-hari mereka. Sebelumnya, bekerja hanya dapat dilakukan secara on-site, sekarang sudah banyak perusahaan yang menerapkan budaya bekerja WFH (Work From Home), dimana pekerja dapat bekerja secara daring. Tidak hanya soal bekerja, kegiatan lain seperti jual-beli dapat dilakukan melalui handphone dengan adanya teknologi. Menurut data BPS, pada tahun 2022 tercatat 67,88 persen penduduk di Indonesia telah memiliki telepon seluler. Hal ini menandakan proses tarnsisi digitalisasi di Indonesia cukup baik. Namun perlu diingat bahwa tidak semua barang memiliki umur yang panjang, melainkan suatu saat nanti barang elektronik tersebut akan mengalami penurunan umur ekonomis yang pada akhirnya barang elektronik tersebut berakhir pada tempat pembuangan. Hal ini dapat kita sebut dengan e-waste atau limbah elektronik.
Limbah elektronik atau e-waste adalah produk elektronik yang sudah tidak terpakai, rusak, atau mendekati akhir masa pemakaiannya. Limbah elektronik termasuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Beberapa contoh limbah elektronik, di antaranya, televisi, komputer, charger, kabel, ponsel, laptop, kamera, radio, dan DVD player. Sayangnya limbah elektronik ini banyak dibuang begitu saja sehingga kandungan di dalamnya mencemari tanah.
Limbah elektronik merupakan salah satu isu lingkungan yang sedang ramai diperbincangkan. Hal ini karena limbah elektronik sulit sekali terurai dan dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, bahkan berbahaya bagi kesehatan. Limbah elektronik atau limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang masuk ke dalam lingkungan akan mengakibatkan asidifikasi tanah yang dapat merusak tanah, sehingga tanah sudah tidak dapat digunakan untuk bercocok tanam. Asidifikasi tanah adalah fenomena yang merugikan dalam pertanian dikarenakan pH tanah mengalami penurunan. Limbah elektronik dapat menyebabkan asidifikasi tanah karena kandungan bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalamnya.
- Kandungan Logam Berat: E-waste yang mengandung logam berat seperti timbal (Pb), merkuri (Hg) dan kadmium (Cd), dan timah (Sn). Ketika limbah ini terdegradasi atau dibuang dengan sembarang, logam-logam ini dapat larut dalam air hujan dan meresap ke dalam tanah yang akhirnya menurunkan pH tanah.
- Bahan Kimia Beracun: Banyak komponen elektronik mengandung bahan kimia seperti pelarut dan bahan tambahan lainnya. Ketika limbah ini terurai, mereka dapat menghasilkan senyawa asam yang meningkatkan keasaman tanah.
- Proses Dekomposisi: E-waste dapat memicu proses dekomposisi mikroba di tanah yang menghasilkan asam organik dimana hal ini akan berkontribusi pada asidifikasi.
- Kontaminasi Air: Jika limbah elektronik mencemari sumber air, air yang terkontaminasi dapat mengalir ke tanah, meningkatkan keasaman tanah di sekitarnya.
- Gangguan Neurologis: Limbah elektronik yang mengandung logam berat seperti timbal dan merkuri, yang dapat menumpuk di otak dan sistem saraf, menyebabkan gangguan neurologis seperti kehilangan memori, gangguan perkembangan, bahkan kerusakan otak.
- Gangguan Pernapasan: E-waste yang dibakar akan melepaskan polutan udara yang berbahaya, seperti dioksin dan furan. Dioksin dan furan merupakan polutan organik persisten (POP) yang tidak terurai di lingkungan dan terakumulasi secara biologis dalam rantai makanan. Keduanya ini dapat ditemukan di udara, air dan tanah yang telah terkontaminasi. Dioksin dan furan biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, dimana kedua komponen kimia ini dapat mengiritasi paru-paru dan menyebabkan masalah pernapasan seperti asma, bronkitis, dan kanker paru-paru.
- Masalah Reproduksi: Beberapa bahan kimia dari limbah elektronik dapat mempengaruhi sistem reproduksi yang berdampak pada masalah kesuburan dan risiko cacat lahir. E-waste sangat berbahaya bagi janin dan anak-anak yang organnya masih dalam tahap pengembangan, juga cenderung lebih rentan terhadap efek berbahaya dari bahan kimia. Paparan dari e-waste selama kehamilan dapat menyebabkan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan masalah pengembangan saraf.
- Iritasi Kulit dan Mata: Hal ini terjadi pada pekerja yang menangani e-waste tanpa adanya perlindungan yang memadai, sehingga risiko pekerja terpapar sangat tinggi. Dampak dari paparan ini berupa efek jangka pendek seperti iritasi kulit dan mata, namun tidak menutup kemungkinan adanya risiko kesehatan yang serius pada jangka panjang.
- Pengurangan Pemakaian: Langkah awal adalah dengan mengurangi jumlah penggunaan barang elektronik. Meskipun perkembangan barang elektronik semakin pesat, namun sebagai upaya dukungan kita terhadap pengelolaan limbah elektronik, kita dapat memperpanjang perangkat elektronik yang kita miliki dengan menggunakannya dalam waktu yang lebih lama. Mulai dengan membeli perangkat elektronik baru ketika dibutuhkan saja.
- Penggunaan Kembali: Jika perangkat elektronik telah rusak, jangan langsung dibuang ke tempat sampah, melainkan diperbaiki terlebih dahulu. Banyak komponen elektronik yang dapat kita pakai kembali untuk membuat perangkat elektronik lainnya. Alih-alih diletakkan ke tempat pembuangan, perangkat tersebut dapat digunakan kembali menjadi sebuah perangkat elektronik yang baru.
- Daur Ulang: Komponen perangkat elektronik seperti logam, plastik, dan kaca dapat didaur ulang dan digunakan kembali. Dengan mendaur ulang e-waste, kita juga dapat melestarikan sumber daya alam dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Daur ulang limbah elektronik dapat mengurangi emisi metana yang dihasilkan dari sampah yang terbuang di tempat pembuangan akhir. Daur ulang limbah elektronik juga dapat mengurangi aktivitas penambangan yang menghasilkan gas seperti karbon dioksida, sulfur dioksida, dan debu.

ternyata jadi tau sisi gelap teknologi, terimakasih informasinya 😁
ReplyDeleteglad to share :)
DeleteSetuju banget, memang kita gak bisa memungkiri fakta kalau perkembangan teknologi memerlukan kita untuk memiliki pengetahuan yang mendalam dalam pengelolaan limbahnya.
ReplyDeletepenulisannya bagus banget! emang gaboleh dibodo-amatin sih umur ekonomi barang elektronik kita
ReplyDeleteReal sisi lain dari elektronik
ReplyDelete