2024: Tahun Terpanas, Alarm untuk Indonesia dan Asia






Awal tahun ini, lautan kita mulai terasa seperti air hangat di bak mandi. Suhu laut yang ekstrem memutihkan terumbu karang di seluruh dunia, termasuk di Asia Tenggara, rumah bagi ekosistem laut terkaya. Di Indonesia, keindahan terumbu karang di Raja Ampat dan kawasan lain turut terancam. Saat suhu terus naik, banyak karang mati, dan kita semua mulai merasakan dampaknya.

Minggu lalu, para ilmuwan mengumumkan bahwa 2024 adalah tahun terpanas dalam sejarah—dan untuk pertama kalinya, suhu global melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius. Ini adalah angka yang sering kita dengar, tetapi dampaknya nyata: banjir besar di Jakarta, suhu panas yang membuat sawah kering di Jawa, dan kebakaran hutan yang semakin parah di Kalimantan dan Sumatra. Kita bukan hanya menghadapi statistik; kita menghadapi perubahan nyata yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

El NiƱo, fenomena cuaca yang memperkuat panas global, memperburuk semua ini. Hujan deras menyebabkan banjir di satu wilayah, sementara daerah lain terpanggang kekeringan. Di India, Pakistan, dan negara tetangga lainnya, jutaan orang kehilangan rumah akibat banjir dan longsor. Di Indonesia, hal serupa terjadi—Jakarta kembali tergenang, sementara masyarakat di Kalimantan Selatan bergulat dengan banjir besar.

Namun, para ilmuwan mengingatkan: ini bukan akhir dari segalanya. Suhu mungkin kembali turun di tahun-tahun mendatang, tetapi kita hanya diberi gambaran singkat tentang masa depan jika dunia tidak bertindak.

Saat ini, para pemimpin dunia berkumpul di COP29 di Azerbaijan untuk mencari solusi. Di sana, negara-negara berkembang seperti Indonesia meminta komitmen dari negara-negara kaya untuk membantu mendanai adaptasi perubahan iklim. Dana ini bisa digunakan untuk melindungi mangrove, memulihkan terumbu karang, dan membangun infrastruktur yang tahan bencana.

Pesannya jelas: perubahan iklim bukan sesuatu yang jauh di masa depan. Ini terjadi di depan mata kita. Ketika sawah tidak lagi bisa panen karena kekeringan, ketika banjir menggenangi rumah kita, atau ketika kabut asap membuat kita sulit bernapas, semua ini adalah alarm yang harus kita dengar.

Bagi kita di Indonesia, ini adalah panggilan untuk bertindak—untuk memperbaiki hubungan kita dengan alam, melindungi yang kita punya, dan memastikan anak-anak kita punya masa depan. Setiap langkah kecil, setiap keputusan hari ini, bisa membuat perbedaan besar. Ini bukan akhir. Perjuangan masih berlangsung.

Writer: Hans Christian

Comments