BENCANA ALAM DAN NON ALAM BANJIR DI INDONESIA



Berbeda dari bencana alam seperti tsunami, banjir sering disebabkan oleh kelalaian manusia dalam menjaga lingkungan sekitarnya. Hampir seluruh wilayah perkotaan dan pedesaan pernah mengalami bencana banjir. Akibatnya banyak penduduk yang mengalami kerugian harta, kehilangan benda, hingga menelan korban jiwa. Kejadian banjir susah untuk diprediksi, namun masih bisa dikendalikan. Hingga sekarang banjir masih menjadi bencana yang paling sering terjadi di Indonesia.


Faktor-Faktor Manusia yang Menyebabkan Banjir:

1. Buang Sampah Sembarangan

Sampah didefinisikan sebagai produk limbah, jika tidak dibuang dengan benar dan tidak dikelola dengan baik maka sampah bisa mencemari lingkungan sekitar, menurunkan nilai properti, dan merusak keindahan alam. Walupun sudah banyak peringatan dan sering terjadi kasus banjir, masih banyak masyarakat yang menyepelekan pembuangan sampah dalam kehidupan sehari hari lkhususnya bagi penduduk yang tinggal di kota. Banyak sampah menyumbat drainase yang sempit dan sedikit akan menyebabkan penampungan air tidak optimal dapat menyebabkan banjir.


2. Penebangan Hutan Terus Menerus

Sebanyak 62,97 persen dari luas daratan Indonesia merupakan kawasan hutan yang memiliki berbagai fungsi bagi kehidupan masyarakat. Aktivitas menebang pohon secara ilegal di Indonesia dapat disebabkan oleh kepentingan bisnis dan politik yang mengekploitasi kayu untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Karena banyak pohon yang ditebang habis-habisan mengakibatkan kutangnya peresapan air ke dalam tanah sehingga dapat menyebabkan banjir hingga longsor. Sampai saat ini pemerintah berupaya menurunkan laju deforestasi demi menjaga kelestarian hutan dengan program reboisasi. 


3. Membangun Pemukiman di Sekitar Daerah Resapan

Kawasan resapan air seperti tepi sungai di pedesaan maupun perkotaan berperan penting untuk menjaga kestabilan siklus air, mengurangi genangan air serta mencegah erosi tanah. Namun, banyak penduduk yang mendirikan bangunan liar maupun bangunan untuk dijadikan tempat perdagangan. Akibatnya, kurang daerah resapan air sehingga dapat terjadi banjir.


4. Efek Rumah Kaca

Banyaknya bangunan yang memakai bahan kaca berakibat peningkatkan suhu bumi yang tidak terduga secara ekstrim membuat es di Kutub lebih cepat mencair dan mempengaruhi ketinggian permukaan laut yang semakin meningkat. Air akan mengalir dari dataran tinggi ke dataran yang lebih rendah, oleh karena itu, dengan berada di kawasan dataran rendah akan lebih memiliki resiko yang besar terkena bencana banjir.



Untuk itu, diperlukan upaya untuk mengurangi resiko terjadi banjir, diperlukan upaya sebagai berikut:

1. Sistem Peringatan Dini

Memberikan informasi terbaru secara menyeluruh disetiap kawasan daerah yang rawan terjadi bencana banjir bagi masyarakat sekitar baik sebelum, menjelang, dan sesudah hujan. 


2. Reboisasi Hutan

Menjaga kelestarian hutan dengan menanamkan tumbuhan disekitar hutan yang kosong, maupun hutan yang pernah terjadi kerbakaran, banjir, atau longsor sangat penting untuk akar pohon dapat menyerap air hujan dan mencegah erosi tanah.


3. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pembuatan drainase atau terasering disekitar tempat tinggal masyarakat lewat pipa di dalam tanah maupun saluran terbuka untuk menyaring, menampung, mengatur aliran/genangan air ke tempat yang lebih aman agar terhindar dari erosi sehingga dapat menjaga kesuburan tanah.


4. Pengelolaan Sampah Dan Limbah

Membuang sampah maupun limbah sesuai aturan yang berlaku serta membedakan jenis-jenis sampah organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dapat didaur ulang menjadi sesuatu yang bermanfaat menjadi salah satu faktor penting untuk membantu mencegah potensi banjir.


5. Membuat Peraturan Khusus

Untuk mecegah bencana banjir, dapat dilakukan dengan membuat peraturan-peraturan sesuai kondisi daerah tertentu mengenai tata cara pembuangan sampah sesuai tempatnya serta pengelolaan sampah dengan benar. Pemerintah dan masyarakat setempat juga dapat membuat tanda peringatan seperti dilarang membuang sampah di daerah yang rentan terjadi banjir.


Writter: Clara Angelita Darma

Comments

Post a Comment