ANTISIPASI PENERAPAN EKONOMI HIJAU DENGAN ADANYA RISIKO INFLASI HIJAU
Melihat keadaan bumi yang sudah semakin terkikis dengan perbuatan manusia yang kian serakah, masyarakat sebagai bagian dari bumi harus ikut serta dalam penerapan ekonomi hijau. Sebuah indikator yang telah disepakati oleh negara-negara yang tergabung dalam PBB yaitu SDG (Sustainable Development Goals), memiliki banyak sekali agenda yang memabahas tentang lingkungan. Agenda ini dibuat untuk menjamin adanya perdamaian dan kemakmuran manusia dan planet bumi sekarang dan masa depan. Sehingga penerapan ekonomi hijau perlu perlu dilakukan sebagai pemenuhan agenda tersebut. Penerapan ekonomi hijau dapat dilakukan dengan beberapa contoh:
- Menerapkan Transportasi Hijau: Seperti yang kita ketahui bahwa mobilitas masyarakat Indonesia sangat tinggi ditandai dengan jumlah transportasi roda dua yang sangat mendominasi di Indonesia. Namun, transportasi ini bertenagakan bensin yang merupakan bahan bakar fosil. Emisi dari bahan bakar fosil dinilai mencemari lingkungan, sehingga perlu adanya energi terbarukan atau energi lain yang sebagai produk substitusi. Oleh karena itu, penggantian bahan bakar fosil menjadi energi listrik merupakan solusinya. Popularitas penerapan mobil listrik di Indonesia sudah semakin meningkat. Pemerintah juga banyak mendukung penggunaan mobil listrik ini dengan memberikan insentif pemotongan pajak.
- Melakukan Efisiensi Energi: Indonesia masih tertinggal jauh dari negara kecil seperti Singapura dalam hal penghematan dan efisiensi energi. Pasalnya, mayoritas bangunan komersial di Indonesia belum bersertifikasi gedung hijau. Tercatat, Indonesia baru memiliki 34 gedung hemat energi dari total 450 unit gedung. Melihat permasalahan ini, perlu adanya kesadaran dari masyarakat akan pemanfaatan sumber daya dengan efisien.
- Pengelolaan Sumber Daya Alam: Dalam menuju kesuburan tanah, petani diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida dan produk kimia lain yang dapat mendatangkan penyakit dan mengganggu kehidupan lingkungan. Oleh karena itu, terdapat pilihan lain dengan menggunakan biopestisida yang memiliki keunggulan yaitu tidak menghasilkan residu, mudah terurai secara alami, dan lebih efektif meski penggunaannya dalam jumlah kecil.
- Produk Ramah Lingkungan: Adanya dorongan bagi masyarakat untuk menggunakan produk ramah lingkungan dan produk yang menggunakan bahan daur ulang. Produk ramah lingkungan dapat mulai dipopulerkan dengan dipasarkan secara massive guna meningkatkan awareness kepada masyarakat.
- Melakukan Inovasi: Dapat dilakukan investasi pada bidang R&D untuk menciptakan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan dan efisien.
- Pengelolaan Limbah: Pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan melakukan daur ulang dan komposting demi meningkatkan upaya daur ulang material dan composting sampah organik untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir. Selain itu, dapat dilakukan dengan penerapan ekonomi sirkuler yang memfokuskan pada perbaikan, daur ulang, dan penggunaan ulang barang untuk mengurangi limbah dan penggunaan bahan baku baru.
- Biaya Transisi: Investasi awal yang tinggi dalam teknologi hijau dan energi terbarukan sering kali menyebabkan kenaikan harga, terutama jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen.
- Regulasi dan Pajak: Kebijakan lingkungan seperti pajak karbon atau batas emisi dapat meningkatkan biaya produk dan konsumsi, menyebabkan harga barang dan jasa meningkat.
- Permintaan dan Penawaran: Perubahan dalam permintaan dan penawaran bahan baku ramah lingkungan, serta biaya produksi yang lebih tinggi, dapat berkontribusi pada inflasi.
- Infrastruktur dan Teknologi: Biaya pengembangan dan penerapan infrastruktur serta teknologi baru dapat mempengaruhi harga dalam jangka pendek.
- Penerapan Mobil Listrik Sebagai Upaya Transportasi Hijau. Rentang harga mobil listrik mulai dari $20,000 hingga $35,000, sedangkan rentang harga mobil bensin dimulai dari $15,000 hingga $30,000. Perbedaan yang cukup besar yang harus dihadapi oleh masyarakat. Biaya yang tinggi ini dapat menyebabkan peningkatan harga barang dan jasa yang menggunakan teknologi listrik ini.
- Permintaan Bahan Baku yang Meningkat. Upaya untuk beralih ke ekonomi hijau sering kali meningkatkan permintaan untuk bahan baku tertentu, seperti logam langka dan bahan untuk panel surya atau baterai. Seperti contohnya penggunaan nikel dalam produksi baterai yang akan digunakan pada mobil listrik. Harga nikel sekarang kian melejit, bahkan mencapai level tertinggi sejak september 2023 dengan harga US$20,000 per ton. Namun, Indonesia tidak perlu khawatir akan masalah ini karena Indonesia dinobatkan sebagai negara penghasil nikel terbesar di dunia.
- Regulasi dan Pajak Lingkungan. Kebijakan pemerintah, seperti pajak karbon, biaya emisi, dan peraturan lingkungan yang ketat, dapat meningkatkan biaya produksi untuk perusahaan. Perusahaan kemudian cenderung meneruskan biaya tambahan ini kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.
- Keterbatasan Pasokan. Dalam transisi menuju ekonomi hijau, mungkin ada beberapa kekurangan pasokan untuk beberapa bahan atau teknologi yang diperlukan. Kekurangan pasokan ini dapat membuka peluang kami untuk berinvestasi dalam pengimporan beberapa bahan yang diperlukan yang akhirnya berakibatkan penambahan biaya pada barang dan jasa yang terkait.
- Perubahan Dalam Rantai Pasokan. Upaya untuk mengurangi jumlah jejak karbon sering kali memerlukan perubahan dalam rantai pasokan, seperti menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan atau metode produksi yang lebih bersih. Perubahan ini bisa menambah biaya produksi dan distribusi.
- Investasi dalam R&D. Perusahaan yang berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan untuk menemukan solusi yang lebih hijau sering kali memerlukan waktu dan sumber daya. Biaya ini bisa mempengaruhi harga pokok barang dan jasa yang dihasilkan.
- Transisi Energi. Perubahan dari energi fosil ke sumber energi terbarukan seperti angin atau matahari memerlukan infrastruktur baru. Biaya pembangunan infrastruktur energi terbarukan ini sering kali lebih tinggi daripada infrastruktur energi fosil yang ada, dan biaya tersebut bisa diteruskan ke konsumen.



kerennn bangett !
ReplyDeletePerlunya kesadaran tiap elemen masyarakat untuk andil dalam ekonomi hijau
ReplyDeletebanyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam upaya mewujudkan ekosistem di bumi yang berkelanjutan.
ReplyDeletememang perlu komitmen ya untuk melaksanakan ekonomi hijau ini
ReplyDeleteJaga bumi selalu
ReplyDelete